Ditulis oleh Farid Syafrodhi

Pembeli adalah raja, itu ungkapan yang umum diketahui banyak orang. Biasanya sih hal ini ditekankan oleh pelaku usaha kepada karyawannya untuk memperlakukan konsumen dengan sebaik-baiknya. Melayani dengan ramah, memberikan informasi yang dibutuhkan, ya bak raja gitulah.

Tapi benarkah semua pelaku usaha memperlakukan pembeli sebagai raja? Saya mau cerita dikit ya tentang pengalaman saya berbelanja.


Beberapa tahun lalu saya sempat syok karena membeli beberapa barang kebutuhan harian di sebuah toko kelontong yang tak jauh dari rumah. Apa lacur? Penjualnya ibu-ibu yang menurut saya agak galak dan cenderung cuek.

Jadi waktu itu saya beli beberapa bumbu dapur seperti garam, kecap, gula pasir, gula Jawa dan sebagainya. Saya yang waktu itu datang duluan kok nggak segera dilayani. Malah ibu-ibu yang datang belakangan justru lekas diambilkan barang yang mau dibeli. Waktu itu saya malah disuruh ngambil sendiri barang-barang yang mau saya beli, kan KZL. Padahal di toko itu juga ada karyawannya.

Karena saking lamanya pelayanan dan ketidakramahan si penjual, akhirnya saya nggak jadi beli di toko tersebut dan mencari ke toko lain. Tapi meskipun penjualnya agak jutek dan kiosnya sempit karena penuh dengan barang jualan, saya heran, kenapa ya yang beli kok justru banyak? Sementara toko kelontong di sebelahnya yang secara pelayanan lebih oke, kok justru kalah ramai?

Beberapa pekan kemudian saya belanja ke toko kelontong itu lagi. Alhamdulillah untuk kali kedua ini saya dilayani dengan baik. Semua barang yang saya beli diambilkan semua oleh karyawan. Lalu hampir setiap pekan saya belanja kebutuhan rumah tangga mulai dari beras, gas elpiji, sesabunan, dan sebagainya di toko tersebut.

Setelah saya teliti, ternyata yang bikin orang tertarik untuk beli di toko kelontong tersebut adalah barang-barang yang dijual lebih komplit dan harganya juga lebih kompetitif ketimbang di toko serupa lainnya.

Nggak bisa dipungkiri, orang sejagat di dunia ini, rata-rata, ketika mau beli sesuatu pasti mayoritas memilih yang harga barangnya murah kann. Ngaku deh ngaku! Ya.. kecuali Nia Ramadhani, Syahrini, dan orang-orang sejenis mereka. 

Tapi saya baru nyadar juga sih, ini kan toko kelontong biasa, bukan toko kelontong modern atau minimarket semacam Alfamart atau Indomaret yang pelayannya harus memperlakukan pembeli bak raja. Jadi saya punya kesimpulan, jangan berharap jadi raja kalau beli di toko kelontong biasa. Dan jangan berharap juga Anda mendapatkan keramahtamahan seperti di minimarket karena para penjual ini tidak tahu sistem operasional prosedur (SOP) pelayanan di minimarket.

Jangan buru-buru juga menjustifikasi bahwa si penjual jutek atau acuh pada pembeli kalau Anda baru pertama kali bertemu dengan penjual yang seperti itu. Bisa jadi saat itu mereka sedang terlilit masalah sehingga suasana emosinya terbawa ketika melayani pembeli. Tapi setelah beberapa kali kulakan barang di toko tersebut dan kenal dengan si ibu pemilik toko, yang sebut saja si ibu bernama Siti, memang watak Bu Siti ini emang rada galak dan cuek sih, hehehe, tapi itu nggak menyurutkan saya untuk belanja.

Saya justru sudah setahun lebih jadi pelanggan di toko tersebut, dan oleh Bu Siti saya disebut sebagai pelanggan terbaik. Loh kok bisa? Kata Bu Siti, itu karena setiap kali belanja, saya ngambil sendiri apa yang saya mau beli, jadi nggak ngerepotin si ibu dan karyawannya. Pikir saya, ada-ada saja nih Bu Siti ngasih award sebagai Pelanggan Terbaik ke saya, hahaha.

Ya emang sih, setiap kali mau belanja di toko Bu Siti, saya selalu ngambil sendiri barang-barang yang mau saya beli. Saya pun juga menimbang sendiri barang-barang kebutuhan seperti beras, bawang, brambang, gula merah, kacang ijo, kedelai dan sebagainya. Kebetulan di dekat tumpukan beras tersedia timbangan elektronik. Jadi kalau ada pembeli yang nggak sabaran seperti saya, Bu Siti akan mempersilakan menimbang sendiri barang yang mau dibeli. Dan selama ini Bu Siti percaya-percaya aja sama berat timbangan dari para pembeli. 

Bahkan kalau ada barang yang tidak tersedia di etalase, saya diminta untuk ngambil sendiri barang yang saya inginkan di gudang belakang. Saking seringnya saya ngambil barang dan menimbang sendiri bareng pembelian, saya malah sering banget dianggap sebagai karyawannya Bu Siti oleh para pembeli lainnya. Mereka meminta saya untuk mengambilkan barang di rak, menimbangkan barang mereka dan ada juga yang nitip salam ke Bu Siti. Yang terakhir ini biasanya para sales barang yang mau ngedrop barang ke toko.

Lalu apa untungnya buat saya? Ya tak lain yaitu saya dapat diskon alias harga khusus untuk beberapa item barang yang sering saya beli, seperti santan kemasan, gula jawa, mi keriting kuning, kacang hijau, kecap, dan sebagainya. Pokoknya saya dikasih harga khusus yang tak diberikan oleh pelanggan lain. Bu Siti sendiri yang mengungkapkan hal ini kepada saya. Nah kalau beberapa item tersebut stoknya mulai menipis, Bu Siti biasanya tidak menjual barang tersebut ke orang lain. Beliau hanya akan menjualnya ke saya.

Saya pun tak sungkan mengomentari apa pun di toko tersebut. Misalnya saya mengritik siaran TV di toko yang setiap hari hanya menyetel channel musik dangdut. "Mbok ya sesekali nyetel pengajian tho Bu,". Dan benar saja, beberapa kali saya dapati TV di toko sedang menyiarkan pengajian. Lalu saya komentari juga karyawan perempuan yang dandanannya terlalu menor. Kadang saya juga nyempil makanan yang karyawan toko atau Bu Siti makan. Meskipun mereka sering saya usili, toh mereka ternyata nggak marah.

Dan satu lagi, setiap kali menjelang lebaran, saya selaku dikasih baju batik oleh Bu Siti, hehehe. Cara ngasihnya juga diam-diam. Biasanya baju batik tersebut dibungkus plastik kresek hitam lalu langsung dimasukkan ke keranjang belanjaan saya.

Di toko Bu Siti ini, katanya saya juga menjadi satu-satunya pelanggan yang nggak pernah minta plastik pembungkus. Ya, saya kalau belanja di toko Bu Siti ini selalu membawa tas belanjaan sendiri yang terbuat dari anyaman plastik. Atau kalau belanjaannya nggak sedikit, saya justru bawa kontainer besar agar muat barang lebih banyak. Karena ulah saya ini, di kalangan toko milik Bu Siti, saya dianggap sebagai pelanggan yang aneh karena menolak plastik kresek. Tapi ya biarin lah, yang penting saya hepi, hehehe.

Lebih hepi lagi, saya boleh ngutang dulu lho dan bayarnya nanti belakangan. Pokoknya sesempatnya saya mampir ke toko, baru saya bayar. Biasanya sih hutang saya bayar pas saya belanja sekalian.

Begitulah hubungan saya sebagai pelanggan dengan Bu Siti dan karyawannya sebagai penjual bahan kelontong. Yang mau saya ungkapkan di tulisan ini adalah hubungan antara pelanggan dan penjual itu nggak selalu seperti raja dan pelayannya kok. Iya kan, raja mana sih yang nyari harga murah, diskonan, beli 1 dapat 5, hehehe.

Ada nilai seni tersendiri di mana kita harus bisa menempatkan diri kadang sebagai teman, kadang sebagai anak kepada orangtua, murid yang nakal kepada gurunya dan sebagainya. Tapi hubungan apa pun itu, hubungan tersebut harus saling menguntungkan. Sepakat?