Ditulis oleh Farid Syafroni

Angkringan rasa restoran. Kalo rasa makanaannya yang bagaikan restoran asik banget ya tapi gimana kalo rasa bayarnya? Istilahnya kuliner dengan harga ngepruk!

Bagi orang Jawa, istilah ngepruk mungkin sudah nggak asing di telinga. Ngepruk alias kepruk yang dalam bahasa Indonesia berarti pukul atau memukul, itu nggak hanya terjadi dalam olahraga tinju atau mix martial arts (MMA) lho, tapi juga terjadi dalam transaksi jual beli. Tentu dalam transaksi jual beli ini kata ngepruk berkonotasi negatif, dalam arti penjual memberi harga yang tidak wajar pada barang jualannya.


Saya sebel banget kalau ketemu dengan penjual yang menjual barangnya dengan harga yang nggak wajar. Atau menjual barang dengan harga yang berbeda kepada para pembelinya. Nah, Kejadian ini pernah saya alami bersama teman-teman saat keplek ilat alias kulineran malam hari di Kota Solo, sekitar tiga tahun lalu.

Kala itu sehabis maghrib, kami tengah meeting di rumah kos seorang teman di Kota Bengawan. Nggak terasa, rapat kami ternyata berlangsung lama hingga larut malam sekira pukul 22.30 WIB. Namanya juga anak muda, buat kami jam segitu ya masih dianggap sore.

Malam itu, kami pun sepakat untuk ngelayap menghabiskan malam. Niatnya sih cuma nongkrong, nyari angin di pinggir jalan sambil melihat lalu lalang kendaraan di malam minggu. Tapi semakin malam, rasanya kok perut kami seperti berteriak minta diisi. Akhirnya mampirlah kami bertujuh ke sebuah wedangan sederhana di daerah Purwosari.

Kami pun langsung disambut dengan aneka gorengan yang berjajar di meja. Macam-macam nasi bungkus, mulai dari nasi bandeng, nasi lombok ijo, nasi sambel teri, nasi kering tempe dan lain sebagainya, juga tersaji rapi di hadapan kami. Saya sendiri makan dua bungkus nasi bandeng dan memesan teh hangat. Tak ketinggalan, gorengan hangat yang baru saja diangkat dari perapian areng ikut menemani kami menghangatkan suasana malam minggu.

Hidangan teman-teman pun tak beda jauh dari saya. Hanya minumannya saja yang berbeda-beda, ada yang pesan kopi, wedang jahe dan es teh. Kami duduk di sebuah bangku panjang tak jauh dari tempat parkir. Wedangan yang kami sambangi itu pun kalau boleh saya bilang tergolong istimewa. Lha gimana nggak istimewa, wong tempatnya saja nylempit di sebelah toko dan agak gelap. Tapi yang datang ke wedangan itu rata-rata bermobil dan beramai-ramai.

Nah singkat cerita sebelum pulang, satu persatu kami laporan kepada bapak-bapak di belakang meja, guna mempertanggungjawabkan makanan dan minuman apa saja yang sudah kami masukkan ke dalam perut kami. Dan yang bikin saya dan teman-teman terbelalak adalah total uang harus saya bayar. Total jenderal Rp300 ribu! Edyaan! Mosok bertujuh cuma makan nasi bungkus, gorengan dan minuman standar, totalnya 300K? Ngepruk iki jenenge, jhan regane ora wajar. Begitu pikir saya.

Tiwas saya sebelumnya sudah pede untuk mbayari makan teman-teman semua, ternyata kok harganya muahaalll bangeett. Wong perkiraan saya, habisnya itu ndak lebih dari Rp100 ribu, lho. Sewaktu bayar, saya ndak berani protes, apalagi ngamuk kepada penjualnya. Dan teman-teman cuma diam sambil melihat ke arah saya, seolah mereka kompak berkata, “Cepetan bayar!” Hiks.. Jhan apes tenan. Duit di dompet saya pun langsung amblas dan menyisakan beberapa lembar uang Rp20 ribuan.

Di dalam mobil, sontak kejadian itu pun langsung jadi bahan pembicaraan di antara kami hingga sampai di tempat kos teman kami. Dan selain harga yang nggak wajar di wedangan itu, tentu saya pun jadi bahan pembicaraan, karena saya yang mbayari mereka. Kawan-kawan saya tentu sangat terima kasih kepada saya, karena saya telah berjasa mentraktir mereka. Bisa jadi saya ini seperti dewa penyelamat bagi kawan-kawan, karena tidak sepeserpun uang di dompet mereka keluar.

Tapi jujur secara pribadi makanan dan minuman yang sudah saya santap di wedangan tersebut semuanya enak. Tehnya juga kentel, wangi dan ada rasa sepet-sepetnya. Ukuran gorengannya juga lebih gede ketimbang gorengan yang biasa dijajakan di wedangan yang lain. Tapi untuk semua hidangan yang enak itu, ya menurut saya masih nggak worth it dengan harganya yang selangit. Tapi ya sudah lah, kita lupakan itu dan mari mengambil pelajaran dari pengalaman tadi.

Pertama, bila ingin berwisata kuliner di kota yang kita masih nol tentang kulinernya, sebaiknya tanya-tanya ke teman atau bisa tengok IG yang biasa me-review soal makanan di kota tersebut. Salahnya saya, tidak tanya-tanya dulu sebelum meluncur ke TKP, eh, wedangan tersebut maksudnya.

Kedua, jangan terlalu pede mau traktir dan sok jadi pahlawan kalau duit di dompet mepet.

Ketiga, sebelum bayar, nggak ada salahnya kita tanya-tanya ke pembelinya rincian harga dari hidangan yang sudah kita makan. Kalau perlu minta nota sehingga kita tahu berapa harga dari setiap makanan tersebut.

Semoga pengalaman yang saya alami ini tidak terulang pada diri saya sendiri dan orang lain.